Ada yang unik dari perjalanan lagu *Kasih*. Lagu ciptaan gue sendiri ini sempat gue bangun kembali menggunakan AI berdasarkan ingatan, lalu gue unggah ke YouTube. Belakangan, rekaman lamanya justru ditemukan kembali di antara arsip digital yang tersimpan di PC.
Ibarat merenovasi rumah berdasarkan ingatan, ternyata rumah aslinya masih ada. Cuma alamatnya lupa.
Tapi sebelum sampai ke bagian plot twist itu, ada cerita menarik tentang bagaimana AI membantu gue mengeksplorasi kemungkinan baru dari sebuah lagu lama.
## Satu Lagu, Berbagai Kemungkinan Aransemen
Ketika mencoba merekonstruksi *Kasih* menggunakan AI, gue bukan sedang membuat ulang lagu milik orang lain. Gue sedang mencoba menghidupkan kembali komposisi gue sendiri berdasarkan ingatan yang masih tersisa.
Dari proses tersebut, gue melihat peluang untuk membawa satu lagu ke berbagai pendekatan musik. Eksperimen yang gue coba mencakup K-Pop Gamelan, Funkot 2000-an melalui versi *KASIH, Gelap di Hati*, serta pendekatan orkestra dan etnik melalui *Indonesia in Harmony / Indonesian Dreams*.
Setiap pendekatan menawarkan karakter dan suasana yang berbeda. Satu komposisi bisa terasa punya identitas baru ketika ritme, instrumen, tekstur, dan aransemen diubah.
AI cukup membantu dalam tahap ini. Gue bisa mengeksplorasi ide, mencoba berbagai kemungkinan, dan memperoleh bahan untuk dibandingkan tanpa harus memulai setiap percobaan dari nol. Hal yang sebelumnya hanya berupa bayangan di kepala bisa lebih cepat diuji dalam bentuk musik.
Hasil rekonstruksi AI *Kasih* kemudian gue unggah ke kanal YouTube Bany Music Lab.
**Tonton di YouTube: Rekonstruksi AI “Kasih”**
Namun, semakin banyak kemungkinan yang tersedia, semakin penting pula menentukan pilihan. Sebab, menghasilkan banyak versi tidak otomatis berarti menemukan versi yang paling tepat.
## AI Membantu Menemukan Ide, Kurasi Tetap Milik Gue
Bagi gue, AI adalah alat bantu untuk mengeksplorasi ide dan menemukan kemungkinan aransemen. Tetapi alat bantu tetaplah alat bantu. Ia tidak otomatis mengetahui versi mana yang paling sesuai dengan tujuan kreatif gue.
Di sinilah kurasi menjadi penting.
Setiap hasil perlu didengarkan, dibandingkan, dan dinilai kembali. Ada ide yang menarik untuk dikembangkan, ada yang cocok sebagai eksperimen, dan ada pula yang ternyata tidak sesuai dengan karakter lagu yang ingin gue pertahankan.
Keputusan tersebut melibatkan selera pribadi, pengalaman, pemahaman terhadap komposisi, serta tujuan yang ingin dicapai. AI bisa menyediakan berbagai alternatif, tetapi gue yang menentukan mana yang diterima, diubah, atau ditinggalkan.
Kalau semua hasil langsung dianggap bagus hanya karena berhasil dibuat, proses kreatif bisa berubah menjadi kegiatan mengoleksi variasi. Folder semakin penuh, pilihan semakin banyak, tetapi keputusan artistiknya belum tentu semakin jelas.
Karena itu, buat gue, manfaat AI bukan terletak pada kemampuannya menghasilkan sesuatu tanpa henti. Nilainya justru ada pada bagaimana teknologi tersebut membantu gue menemukan kemungkinan yang kemudian bisa gue evaluasi secara sadar.
Dan dalam perjalanan *Kasih*, ternyata masih ada satu hal yang belum gue perhitungkan: kemungkinan bahwa rekaman aslinya sendiri masih tersimpan.
## Plot Twist: Rekaman Lama Ditemukan pada Oktober 2026
Pada Oktober 2026, gue menemukan kembali rekaman lama *Kasih* dari CD DEMO. File audionya ternyata sudah tersimpan dalam arsip digital di PC, tetapi keberadaannya terlupakan.
Gue sudah lebih dulu merekonstruksi lagu ini berdasarkan ingatan, padahal rekaman lamanya masih ada.
Kalau file itu bisa bicara, mungkin komentarnya sederhana: “Gue di sini dari tadi.”
Tentu saja file WAV tidak bisa bicara. Kalau tiba-tiba bisa, persoalannya mungkin sudah bergeser dari manajemen arsip ke pemeriksaan komputer.
Di balik kelucuannya, penemuan ini punya arti penting. Gue kini bisa kembali mendengarkan dokumentasi dari masa ketika *Kasih* pertama kali dikerjakan, bukan hanya membayangkannya berdasarkan ingatan.
Rekaman tersebut berasal dari fase awal perjalanan musik Uprealband, ketika karakter musik sedang bergerak dari glam rock menuju pop rock dan Britpop. *Kasih* tidak masuk ke album, tetapi rekaman lamanya kini kembali menjadi bagian dari arsip perjalanan karya.
Penemuan ini juga mengubah fokus pekerjaan gue. Sebelumnya, gue sibuk membangun kembali lagu dari ingatan dan mengeksplorasi berbagai aransemen. Setelah rekaman lama ditemukan, muncul kesempatan berbeda: merawat rekaman yang benar-benar berasal dari masa tersebut agar lebih nyaman didengarkan sekarang.
## Dari Eksperimen AI ke Remastering Rekaman Asli
Rekonstruksi AI dan remastering rekaman lama punya tujuan yang berbeda.
Rekonstruksi memberi ruang untuk membangun kembali lagu berdasarkan ingatan dan mencoba pendekatan musikal baru. Sementara itu, remastering berfokus pada penyajian rekaman yang sudah ada, dengan memperhatikan kenyamanan dengar tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Pada rekaman lama *Kasih*, gue ingin mengurangi kesan vokal yang terlalu tajam atau cempreng, termasuk memperhatikan serangan suara pada awal frasa yang terasa cukup keras. Tujuannya bukan mengubah rekaman lama menjadi sesuatu yang seolah-olah dibuat hari ini, melainkan membuatnya lebih nyaman didengarkan sambil tetap menjaga identitasnya.
Mendengarkan suara sendiri dari masa muda tentu punya kejutan tersendiri. Reaksi spontan gue kurang lebih begini: “Buset, suara gue masih muda banget!”
Setelah melewati komentar terhadap diri sendiri itu, barulah perhatian kembali ke pekerjaan audio. Nostalgia boleh hadir, tetapi keputusan remastering tetap harus didasarkan pada apa yang terdengar dan apa yang ingin diperbaiki.
Gue tidak sedang berusaha menghapus masa lalu atau menghakimi kualitas vokal gue ketika itu. Gue hanya ingin rekaman tersebut bisa dinikmati kembali dengan lebih nyaman.
## Teknologi Baru, Karya Lama, dan Keputusan Pribadi
Perjalanan *Kasih* akhirnya mempertemukan beberapa hal yang saling melengkapi: ingatan, eksperimen AI, kurasi pribadi, arsip lama, dan remastering.
AI membantu gue membuka kemungkinan aransemen yang beragam. Kurasi membantu gue menilai kemungkinan tersebut berdasarkan tujuan kreatif. Sementara itu, penemuan rekaman lama memberi akses kembali kepada dokumentasi karya yang sempat terlupakan.
Tidak satu pun dari proses itu menggantikan fungsi yang lain. Rekonstruksi AI bukan pengganti rekaman sejarah, dan rekaman lama tidak membatasi kemungkinan untuk bereksperimen dengan pendekatan musik yang baru.
Buat gue, teknologi paling berguna ketika membantu memperluas pilihan tanpa mengambil alih tanggung jawab dalam menentukan pilihan tersebut. Pada akhirnya, pencipta tetap perlu memahami apa yang ingin disampaikan melalui karyanya dan bertanggung jawab atas keputusan kreatif yang diambil.
Dan ada satu pelajaran praktis yang tidak kalah penting dari seluruh eksperimen ini: sebelum merekonstruksi lagu lama dengan AI, periksa dulu isi PC dan CD DEMO.
Siapa tahu, yang selama ini dicari bukan ide baru, melainkan file lama yang lupa diberi kabar bahwa dirinya masih dibutuhkan.